Apakah Penting Ibu Rumah Tangga Menguasai Keterampilan Public Speaking?

17 comments

 Public Speaking

Apakah penting ibu rumah tangga menguasai keterampilan public speaking? Pertanyaan ini seringkali menggelayuti pikiran saya dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Mungkin Moms juga pernah memikirkan hal yang sama dengan saya. Semakin bertambah usia. Interaksi dengan masyarakat juga semakin kerap dilakukan. Apalagi ketika akhirnya saya harus kembali ke tanah air. Dan aktif dalam berbagai komunitas dan organisasi kemasyarakatan, akhirnya pertanyaan itu pun terjawab sudah. 

Keterampilan Public Speaking pada Ibu Rumah Tangga

Bahwa, keterampilan public speaking tak hanya penting bagi beberapa orang dan beberapa pekerjaaan. Namun keterampilan ini harus dimiliki oleh semua orang yang masih menggunakan bahasa dan berkomunikasi intens dengan orang lain.

Ibu rumah tangga sebagai tokoh sentral dalam rumah tangga tentu berhubungan langsung dengan berbagai pihak yang berkaitan dengan urusan RT, RW kelurahan, kecamatan, sekolah, tukang sales, pedagang sayuran dan urusan lainnya di luar urusan domestik. Kadang juga ada arisan, ibu rumah tangga bergiliran diminta untuk menyampaikan materi. Istilahnya kuliah tujuh menit (kultum). Atau di pengajian diminta jadi MC, moderator atau apalah yang bikin badan panas dingin gak karuan. Di sekolah diminta jadi perwakilan siswa untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Hadeuh. Banjir keringat dan tremor seketika.

Ada juga ibu rumah tangga yang sok sibuk seperti saya. Mengikuti berbagai komunitas, baik komunitas kepenulisan atau organisasi lainnya. Kuliah lagi, lalu diminta menjadi narasumber di kampus tercinta dalam rangka milad universitas atau diminta menjadi narasumber di dunia kepenulisan. Hal ini mau tidak mau membutuhkan keterampilan public speaking.

Ini saya alami sendiri. Berani sih berani ketika diminta maju oleh panitia. Dadakan pula. Tapi ketika pas jrengnya. Wadaww ... tiba-tiba berbagai penyakit hinggap. Lutut lemas, keringat dingin keluar banjir, tiba-tiba suhu ruangan jadi panas, mata nanar, mulut kering, gagap dan gugup gak karu-karuan. Rasanya ada batu besar yang menindih dada. Susah bernafas.

Ya Allah, bener-bener luar biasa pengalaman berbicara di depan, di panggung atau di mana saja yang keliatan menonjol gitu. Saya berusaha mematahkan ketakutan dengan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya Tapi apa daya, ternyata diri enggak siap 100 persen. Otak dan motorik udah gak singkron. Setiap akan berbicara di depan umum, membuat saya tersiksa lahir dan batin. Apalagi kalau suami saya ikutan nonton atau jadi audiens. Wah .. bisa gak bisa bicara apa-apa saya. heuheu. 

Pernah sekali, waktu saya menjadi pembicara di Webinar Tantang dan Peluang MBKM.  Setelah selesai webinar, pak suami mengirimi saya foto waktu saya berbicara. Wadaw .. sorenya ketika suami pulang dari kampus, kena cubit saya deh. Haha. Maluuuu!

Public Speaking untuk Ibu Rumah Tanga
Saya menjadi narasumber di webinar series TP UIKA

Takut Berbicara Glossophobia

Dalam bahasa medis ketakutan berbicara di depan umum itu istilahnya glossophobia. Glossophobia ini menurut artikel yang saya baca di Halodoc, merupakan reaksi alami yang dihadapi tubuh ketika merasa terancam. Perasaan terancam ini akan mengeluarkan respon untuk membela diri dengan melepaskan adrenalin dan steorid dalam tubuh.  Hal ini menyebabkan kadar gula meningkat, tekanan darah dan detak jantung meningkat sehingga mengirimkan aliran darah ke otot. Sehingga menyebabkan jantung berdetak dengan kencang, berkeringat dingin, mual, mules, perut kembung, tangan berkeringat, lutut lemas, gemetaran, dan sulit mengatur nafas. 

Apa Penyebab Glossophobia? 

Banyak faktor yang bisa menyebabkan orang takut berbicara di depan umum. Padahal hanya perbincangan santai atau sekadar mengobrol satu arah. Face to face. Atau berbicara di depan orang banyak.

Menurut bu Nadaa Azkia, seorang coach public speaking dari Kampus Wanita Mulia, orang takut berbicara di depan umum kebanyakan karena takut salah ngomong, takut salah menyampaikan opini, takut dipermalukan, takut dihakimi, malu, tidak PD, tidak berani, merasa kurang wawasan dan berbagai ketakutan lainnya. 

Kalau saya sendiri, ketika diminta berbicara di depan orang, kadang jadi blank aja sih. Materi yang sudah disiapkan tiba-tiba hilang dari benak. Entah kemana itu haha padahal sudah mempersiapkannya jauh dari seminggu sebelum berbicara. Benar-benar norak-norak bergembira. Maluuu! 

Sebenarnya ancaman apapun yang datang ke dalam diri kita, sebenarnya tubuh kita bisa mengatasinya dengan baik. Contohnya, ketika virus datang menghadang, maka imunitas tubuh kita yang sudah ada sejak orok akan melawannnya dengan sekuat tenaga. Lalu, semakin kita tumbuh dan berkembang, tubuh kita pun bisa menerima imunitas dari luar dengan cara melakukan vaksinasi, memberikan asupan makanan yang bergizi dan menjaga pola hidup.

Begitu juga dengan glossophobia ini. Sebenarnya ketakutan berbicara di depan umum bisa diatasi. Dengan mengetahui teknik public speaking. Dari tadi ngomongin public speaking melulu. Mungkin Moms sudah tidak sabar ya. Terus bertanya-tanya. Sebenarnya apa sih public speaking itu?

Definisi Public Speaking

Dari definisi yang saya kutip dari modul public speaking, menurut sejarahnya, public speaking diawali dengan istilah retorika, yaitu seni (keahlian) berbicara atau berpidato yang berkembang sejak abad sebelum masehi. Pada saat itu, orang yang pintar berbicara disebut orang yang pandai meluluhkan hati audiensnya dengan olah bahasa/olah kata.

Lalu makin berkembangnya zaman, akhirnya pada abad ke-20, istilah retorika pun bergeser menjadi speech communication, atau oral communication atau lebih dikenal dengan public speaking.

Public Speaking Sebagai Sarana Komunikasi

Dari sejarah di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa public speaking sebagai sarana komunikasi. Selama manusia berhubungan dengan manusia lain, maka komunikasi akan terus dilakukan. Dulu, orang yang harus memiliki keterampilan public speaking hanyalah public relation atau PR. Pekerjaan ini menjadi pekerjaan yang teramat penting karena dapat membantu perusahaan dikenal dengan citra positif kepada pelanggan atau masyarakat secara luas. 

Pentingnya Public Speaking pada Ibu Rumah Tangga

Sekarang kesadaran memiliki keterampilan public speaking sudah mulai meluas. Tak hanya diperlukan oleh pekerja kantoran saja, namun juga kepada ibu rumah tangga yang tentu saja memiliki kepentingan di tengah masyarakatnya. Misalnya tiba-tiba suami jadi ketua RT, ten tu ibu RT pun kebagian repot yaa. Harus bisa mewakili pak suami dalam kegiatan kemasyarakatan. Bisa berkomunikasi dengan kelurahan, kecamatan. Atau yang paling dekat saja, ketika kita harus berkomunikasi dengan ibu/bapak guru di sekolah. 

Kegiataan di atas kemungkinan kita masih bisa mengatasinya ya. Karena sudah terbiasa. Namun jika tiba-tiba terpilih menjadi wakil ibu-ibu di sekolah menjadi perwakilan kelas dan harus memberikan kata sambutan, bagaimana cara mengatasi glossophobia? 

Dari pengalaman saya beberapa kali diminta berbicara di depan umum, mengatasinya itu tidaklah mudah. Perasaan berdebar-debar, keringat dingin, perasaan takut itu selalu saja datang tiba-tiba meskipun saya sudah merasa cukup siap melakukannya.

Nah, untuk mengatasi glossophobia datang lagi, akhirnya saya mengikuti webinar public speaking bersama coach Nada Azkia yang diadakan oleh Kampus Wanita Mulia. Tak sengaja saya menemukan publikasinya di instagram dan saya tertarik untuk mendaftarkan diri.

Alhamdulillah setelah mengikuti coaching pada hari itu, saya mengetahui teknik public speaking yang baik. Memang masih dasar sih karena setelah itu masih ada kelas advance-nya. Tapi di kelas dasar saja alhamdulillah banyak insight yang saya dapatkan dari kelas tersebut.

5P Mengatasi Rasa Takut

Glossophobia bisa diatasi dengan menghancurkan rasa takut yang mendominasi otak kita. Menurut coach Nada Azkia, ada 5P yang bisa kita lakukan, yaitu:

  1. Persiapan awal
  2. Perubahan Gerak
  3. Pengaturan Nafas
  4. Pemanasan
  5. Pengingat

1. Persiapan Awal

Nah, dipersiapan awal ini, tentu saja kita memerlukan strategi-strategi ya dalam menekan rasa takut. Menurut coach Nada Azkia, ada dua cara yang bisa kita lakukan di persiapan awal ini, yaitu

  1. Menguasai materi
  2. Datang lebih awal

 Menguasai materi ini penting sekali. Jadi untuk pemula, sebaiknya menyiapkan materi tidak mendadak. Kita bisa membuat materi seminggu sebelum hari-H, misalnya. Dengan melakukan persiapan materi, kita jadi paham apa yang akan kita bicarakan nantinya.

Selain persiapan materi, kita juga bisa mempersiapkan skrip pembahasan. Dari mulai kalimat pembuka, berupa salam pembukaan, mengenalkan diri, penjelasan poin yang ditayangkan di PPT atau bentuk lainnya, kalimat penutup. Hal ini akan mengurangi ketakutan dan memberikan rasa aman.

Selain kedua hal di atas, mindset pun perlu diatur agar kira merasa percaya diri. Bahwa apa yang kita sampaikan bukan tentang benar atau salah. Karena kebenaran hanyalah milik Allah. Tetapi menyampaikan informasi yang insyaAllah bermanfaat pada diri dan juga orang lain. Sharing is caring, kan? 

Lalu terpenting buat ibu-ibu adalah perencanaan visual. Misalnya dress codenya apa? jangan sampai salah dress code ya. Ini juga bisa jadi pikiran emak-emak. Lalu berdiri dimana, kita harus mempersiapkan diri, apakah duduk atau berdiri. Jadi lakukan senyaman mungkin sehingga kita merasa percaya diri.

2. Perubahan Gerak

Nah, ketika poin 1 sudah dilakukan, maka yang selanjutnya dilakukan adalah melakukan perubahan gerak. Misalnya, dari posisi duduk tegak, kita berdiri dan senam otot sedikit. Atau sambil duduk, pijat jari-jemari sambil bertanya kepada teman sebangku, bagaimana kabarnya? atau apalah basa-basi gitu, agar kita bisa rileks.

Fungsi dari melakukan perubahan gerak agar tubuh kita menjadi rileks. Melakukan senam ringan akan membuat diri lebih bugar dan otot menjadi lebih kendur. 

3. Pengaturan Nafas

Fungsi dari mengatur nafas ini adalah untuk mengatur intonasi suara kita ketika berbicara. Ketika kita berbicara di depan publik atau di depan umum, usahakan mengatur pernafasan lewat perut.

Nah, ini challenge banget deh. Susah! Saya sudah praktik saat kelas berlangsung dan sulit sekali melakukannya. Jadi mengatur pernafasan lewat perut itu harus dilatih, ya, Moms. Sekali-kali mungkin kita perlu menonton para pakar public speaking presentasi. Sehingga kita terbiasa melihat mereka berbicara dan mengatur pernafasan. 

Latihan yang diajarkan oleh coach Nada Azkia untuk bernafas dari perut. Caranya:   tarik pernafasan lewat hidung, lalu keluarkan lewat mulut. Begitu seterusnya sampai kita bisa mengatur nafas kita lewat perut ketika berbicara.

4. Pemanasan

Pemanasan penting dilakukan di rumah sebelum kita berbicara di depan umum. Kita bisa melakukannya di depan kaca. Ulang-ulang apa yang kita akan bicarakan. Koreksi jika ada salah ucap atau intonasi kurang mengena pada audiens. 

Cara lainnya adalah dengan merekam menggunakan video di HP ketika kita berbicara. Setelah itu putar ulang. Lakukan koreksi jika kita merasa belum cukup baik dalam menyampaikan pembicaraan kita. Atau bisa saja kita meminta bantuan keluarga untuk menilai apakah performa kita sudah baik atau belum.

5. Pengingat

Bahwa presentasi bukanlah tentang salah benar. Jika kita selalu berpikir demikian kita tentu tidak akan pernah bisa berbicara di depan orang atau di depan umum. Kebenaran semata-mata milik Allah. Kita sebagai manusia hanyalah berusaha sebaik-baiknya. 

Yang harus dipertanyakan dalam diri kita adalah apakah presentasi kita berkesan atau tidak, bermanfaat atau tidak. Jangan cemas, karena kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa apa yang kita sampaikan adalah kebaika. Jika kita sudah yakin, insyaAllah, kita akan mampu melawan ketakutan kita untuk berbicara di depan umum. Karena apa yang kita sampaikan insyaAllah bermanfaat dan mengesankan.

Okeyyy!

Karena sudah mengetahui cara mengatasi rasa takut berbicara di depan umum, sekarang sudah mulai bangkit dong percaya dirinya, Moms. Berarti penting ya ibu rumah tagga menguasai keterampilan public speaking.Agar yakin bahwa diri Moms bisa berbicara di depan  umum dan bermanfaat untuk Moms lainnya. Sharing is caring, right?

Salam semangat!

Sri Widiyastuti

Sri Widiyastuti
Saya ibu rumah tangga dengan 6 orang anak. Pernah tinggal di Jepang dan Malaysia sebagai diaspora.Isi blog ini sebagian besar bercerita tentang lifestyle, parenting (pengasuhan anak) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga dan perempuan. Untuk kerjasama silakan hubungi saya melalui email: sri.widiyastuti@gmail.com

Related Posts

17 comments

  1. Asik asiiik, aku butuh tips2 praktikal semacam ini, Mak.
    Karena memang menjadi Ibu tuh bukan hanya peran domestik ya.
    Sebisa mungkin kita juga berkontribusi di masyarakat.... dan skill public speaking memang kudu dikuasai

    ReplyDelete
  2. Kemampuan public speaking adalah kemampuan yang penting ya mbak
    Semua orang harusnya punya kemampuan public speaking, termasuk para ibu rumah tangga

    ReplyDelete
  3. Penting ya mbaa, aku yg sukanya di balik layar mau nggak mau terjun juga sesekali kalau ada yg minta 😆 tahun ini beberapa kali turun gunung dan grogi juga karena udah lama nggak ketemu orang 😁
    Tipsnya bisa aku terapin nih biar makin menguasai public speaking dan nggak gemeteran lagii. Makasih yaa mba^^

    ReplyDelete
  4. Wah ternyata irt macam aku juga penting yaa punya public speaking yang bagus.. terimakasih ilmunya mba

    ReplyDelete
  5. Bermanfaat sekali, Mbak tulisan ini. Kereen. Masya Allah. Semogamasih terus diberi kesempatan untuk berbagi ya, Mbak.
    Mengatur pernafasan lewat perut .. itu sulit ya. *baru membayangkan merasa sulit hihi.

    ReplyDelete
  6. Bener deh, sudah nyiapin bahan omongan eh pas waktunya blank entah lari kemana tadi ya hiks...Ibuk-ibuk juga perlu belajar public speaking, pasti ada manfaatnya nanti. Apalagi kalau sudah menerapkan cara mengatasi Glossophobia dengan menghancurkan rasa takut yang mendominasi otak kita dari coach Nada Azkia ini

    ReplyDelete
  7. Ini saya ikut belajar dan menyerap ilmunya lho. Tapi pas praktiknya tetap saja gemetaran dan malah kadang langsung blank, hehehe ...
    Mungkin harus banyak latihan ya. Semakin banyak jam terbang semakin terbiasa maka rasa grogi ini mingkin hilang dengan sendirinya

    ReplyDelete
  8. Perlu ini, bisa bermanfaat juga buat anak-anak. Mereka akan belajar dari ortunya juga sehingga perlu dikuasai juga . Anak juga bisa dijadikan audien di rumah, hehehe

    ReplyDelete
  9. Aku suka salut dengan sessorang yang memiliki penguasaan panggung dan publik speaking yang baik
    Untuk ibu rumah tangga juga tidak kalah penting sebab dengan demikian Ia akan lebih mampu mengolah komunikasi secara baik dengan keluarga atau lingkungan sekitar

    ReplyDelete
  10. Dulu aku tipe ga bisa bicara di depan, namun sejak kuliah dan banyak praktikum serta tugas presentasi akhirnya latihan melalui kaca sampe sekarang deh alhamdulilah meski kadang deg2an tapi udah biasa ngomong depan org

    ReplyDelete
  11. Iya mbak aku sejak sekolah termasuk yang takut dan nggak pede berbicara di depan umum, sampai sekarang pun masih grogi hehe tapi memang harus diberanikan diri ya jadi kalau ada kesempatan jadi pembicara ya kuambil saja sekalian berlatih pede Alhamdulillah sekarang lumayan membaik hihihi

    ReplyDelete
  12. Seneng banget ada materi public speaking.
    Aku dulu pernah ikutan pelatihan offlinenya, kak.. Dan karena uda jarang dipake, uda lupa lagi..hehhee.
    Sering blank memang kalau diperhatikan banyak orang, padahal cuma lewat zoom yaah..kadang aku juga mau ngomong apa, keluarnya apa.
    Hiiks~

    ReplyDelete
  13. Aku banget tuh mba kadang Suka mengalami Glossophobia Aku baru Tau istilahnya ini,,,,

    Cuma Aku mengalami nya sama orang asing tapi kalau bicara didepan teman2 yg udah kenal lancar2 aja perlu banyak latihan Kali ya.. biar dimanapun bisa

    ReplyDelete
  14. Penting bangeeettt, terutama kalau lagi memberi ceramah ke anak2 biar ga ngos2an, wkwkwkwkwk. Public speaking penting banget utk bersosialisasi, siapa tahu kepilih jadi bu RT.

    ReplyDelete
  15. Aku tuh pengen banget teh, belajar lagi tentang publik speaking, apalagi kan suka bicara di depan publik ya, biar ga malu-maluin

    ReplyDelete

Post a Comment